![]() |
| Bayangan Keluarga |
Kalau ditanya siapa yang telah membesarkan
kita, pasti jawabannya adalah orang tua. Karena dialah yang telah merawat kita
dari kecil hingga dewasa, dari ketika kita belum mengetahui apapun tentang
dunia, hingga kita paham segalanya, digiring untuk menjadi manusia yang
sesungguhnya, dengan meletakkan kita pada posisi-posisi tertentu sesuai dengan
bidangnya. Kalau ada orang yang berani
mengajarkan kita kesabaran dan kedisiplinan, maka itu adalah orang tua. Karena
hanya kepada merekalah kita bisa berkaca, kesabaran yang ia miliki sangatlah
besar adanya, dan itu sudah terbukti ketika kita sudah mulai menginjak dewasa
hingga saat ini. Kedisiplinan pun begitu.
Kita mesti bersyukur kepada mereka, dengan segala upaya yang telah
mereka lakukan untuk mensukseskan kita sebagai anknya, dan hanya dengan rasa
syukur itulah kita bisa membalas apa pun yang telah mereka tuangkan kepada
kita. Tidak bisa jika rasa syukur dilepaskan begitu saja dalam diri kita, kalau
pun itu ada, maka kita dicap sebagai anak yang durhaka. Walau pun dengan penuh
keterpaksaan sekali pun, namun itu bukan menjadi suatu alasan untuk kita tidak
bersyukur.
Bagaimana rasa syukur itu akan hilang. Coba kita tengok kebelakang,
jauh sebelum kita diciptakan sebagai manusia, jauh sebelun kita berproses untuk
menjadi manusia luar bisa, yang sampai detik ini pun peran orang tua masih kita
rasakan tanpa disadari. Hingga kita diciptakan oleh mereka, dari semenjak
balita, menuju kanak-kanak, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia pun
kita tidak bisa melepaskan besar jasanya secuil pun tidak akan bisa.
Karena, proses dari kita kanak-kanak menuju anak-anak yang pada
saat itu kita dimanja dan dituntun ke arah yang belum kita ketahui sebelumya.
Seperti, kita diajari untuk berdiri, buang kotoran yang baik dan ditempat yang
selayaknya, berbicara, hingga bersepeda untuk menuju ke sekolah dan bermain
dengan teman sebaya. Tidak sedikit pun momentum seperti itu kita melewatinya
begitu saja, dan rentetan momentum itu harus diakui sewajarnya oleh kita.
Proses selanjutnya adalah dari anak-anak menuju remaja, ini bisa
dikatakan merupakan momentum paling sulit bagi orang tua untuk menuntun kita.
Mempersiapkan taktik jitu sebagai orang tua untuk anaknya agar tidak salah pergaulan
atau terjerumus kedalam jurang yang berbahaya. Proses transisi inilah yang juga
tidak kita sadari, bahwa disini kita diajarkan untuk enar-benar manut
kepada taktik jitu yang telah dipersiapkan itu. Dengan problema masa remaja
yang menakutkan, seperti pergaulan bebas tentunya, tidak heran jika orang tua
benar-benar menginginkan anaknya untuk menjuhi hal tersebut, misalnya
dititipkan ke pondok pesantren terdekat untuk mempermudah pengawasan mereka
kepada anknya (seperti itu yang penulis rasakan).
Dinamika kehidupan seterusnya adalah dari remaja menuju dewasa dan
lanjut usia. Disini seorang orang tua sebagai mengamat anaknya harus
benar-benar jeli dalam penempatan posisinya. Karena, terbentuknya karakter
seorang anak bisa dilihat sejak momentum keremajaannya sedang dijalaninya.
Sebagai orang tua, tidak akan rela jika anaknya rusak dalam proses ini, untuk
masa depan yang panjang mendatang, tentunya momentum-momentum sebelunya itu
juga panjang.
Dari tahap remaja menuju dewasa dan lansia ini seorang anak juga
harus memahami peran dirinya sebagai anak, dia harus berpikir maju dan
menerawang ke depan tentunya, dengan berbagai ilmu yang telah ia tempuh dari
semenjak proses pertama tadi. Apa yang telah mereka peroleh dari orang tua,
diharapkan untuk segera dipraktekkan selues mungkin dalam proses ini. Karena
disitulah orang tua akan merasa bangga kepada anaknya, dan merasakan jerih
payah yang selama ini telah ia korbankan demi terbentunya pribadi seorang anak.
Menjadi seorang anak tidak mudah, pun begitu menjadi orang tua.
Karena masing-masing memiliki tujuan tersendiri, yaitu, seorang anak harus
membahagiakan orang tua, dan orang tua harus membentuk anaknya sebagai manusia
yang utuh untuk kedepannya. Dan pada saatnya, seorang anak juga akan menjadi
orang tua terhadap anak-anaknya, akan melakukan proses sedemikian rupa. Karena
itulah dinamika kehidupan seorang anak dan orang tua,
