Jumat, 23 Oktober 2015

Dibalik Penetapan Hari Santri Nasional


Dibalik Penetapan Hari Santri Nasional

Hari santri nasional yang baru memasuki tahun pertama ini merupakan sebuah ide tersendiri dari presiden Ir. Joko Widodo, yang pada waktu kampanye calon presiden dan wakil presiden tahun 2014 lalu memberikan tawaran terkait dengan hari santri nasional. “kalau saya menjadi presiden, saya akan meresmikan hari santri nasional pada tanggal 1 Muharram” Dikutip dari sambutan ketua PBNU KH. Said Aqil Siraj sebelum memberangkatkan kirab santri di Surabaya Pada 22 Oktober 2015. Beliau menyampaikan apa yang pernah disampaikan presiden satu tahun lalu.

Namun menurut ketua PBNU itu, tawaran yang disampaikan oleh presiden tidak tepat karena pada tanggal 1 Muharram itu merupakan tahun baru hijriyah, dan pada tanggal itu bukan hanya umat Islam di Indonesia saja yang merayakannya, namun umat Islam seluruh dunia ikut andil dalam tanggal tersebut. Lalu kemudian beliau memberikan tanggal yang tepat untuk hari santri nasional, yaitu pada tanggal 22 Oktober, berkaca pada sejarah bahwa pada tanggal itu merupakan perlawanan seluruh santri yang turut andil melakukan perlawanan pada tetara inggris yang tetap ingin menguasai Indonesia yang dipimpin langsung oleh Alm. KH. Hasyim Asy’ari.

Santri memang mempunyai peran yang sangat penting waktu itu, seluruh santri dari pulau Jawa dan Madura ikut dalam memerangi penjajah, yang sebelumnya dicetuskan fatwa resolusi jihad oleh KH. Hasyim Asy’ari. Selain itu, alasan yang sangat kuat adalah tidak mungkin ada hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November kalau tidak ada resolusi jihad tersebut, dan resolusi jihad tidak akan ada tanpa Nahdlatul Ulama’, sedangkan Nahdlatul Ulama’ tidak akan ada tanpa santtri. Jadi hal tersebut merupakan rentetan yang sambung menyambung dan tidak bisa dilupakan, karena itu sebagian dari sejarah Indonesia.

Sebelas ormas Islam yang tergabung dalam lembaga persaudaraan ormas Islam yaitu, Al-Irsyad, PUI, Persis, Matla’al Anwar, Syarikat Islam, Perti, Ikadi, Piti, Rabitoh Alawiyah, Al- wasliyah, dan Al-ittihadiyah menyepakati bersama bahwa tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional.

Untuk perayaan hari santri nasional pada tahun pertama ini bisa dikatakan istimewa, dengan alasan serba angka sembilan yaitu pada tanggal 9 Muharram, bintang yang dimiliki Nahdlatul Ulama’ ada sembilan, dan walinya pun sembilan. Itu merupakan keistimewaan yang luar biasa, dan semoga menjadi awal yang baik untuk kedepannya.

Peringatan hari santri nasional ini diharapkan agar santri memperkuat tali emosional serta peduli terhadap bangsa, khususnya umat Islam seluruh Indonesia, yang merupakan ujung tombak dari bangsa ini sehingga bisa mempertahankan keselamatan dan keutuhan NKRI. Sesuai dengan cita-cita KH. Hasyim Asy’ari yang jauh sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama’ dan NKRI, bahwa beliau ingin mengkolaborasikan antara semangat Islam dan semangat nasionalisme, Islam saja belum bisa menyatukan Indonesia, harus mempunyai komitmen kebangsaan (komitmen wathoniah), nasionalisme akan menjadi kering tanpa nilai-nilai spirit agama. Oleh karena itu, Islam dan nasionalisme jangan dipertentangkan. itulah cita-cita beliau sekaligus pesan terhadap umat Islam yang ada di Indonesia.

Jadi, tidak salah jika presiden Ir. Joko Widodo menetapkanadanya hari santri nasional, karena semangat nasionalisme dan kesadaran akan berbangsa dan bernegara tetap ada dalam jiwa rakyat Indonesia.

Rabu, 21 Oktober 2015

“Santri” : Siapa sih?

“Santri” : Siapa sih?
Krrrriiingggggg............... “jam menunjukkan pukul 02.30 Wib seluruh sahabat-sahabat santri dimohon untuk bangun dan berwudu’ karena solat tahajud berjama’ah akan segera dimulai”

Bisa dibayangkan tidak bagi kalian yang belum pernah bermukim di pondok pesantren (mondok), masih pagi buta seperti itu disuru bangun dengan secara terpaksa, masih disuru ambil air wudu’ sudah tahu dinginnya minta ampun. Pokoknya ngenes jadi seorang santri.

Orang yang belum pernah menjamah dunia pesantren akan heran dan tertegun ketika mendengar istilah “santri” pertama kali. Mereka akan mengira bahwa sosok seorang santri adalah orang yang alim, tekun beribadah, sopan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, seorang santri bisa juga dikatakan seseorang yang rakus, tamak, dan egois (dalam hal keilmuan).

Pada umumnya, semua orang akan mengartikan istilah santri dengan hal-hal kebaikan, super, dan apalah yang seolah-olah santri adalah makhluk paling sempurna dimuka bumi ini. Sebenarnya tidak sekecil itu pengertian santri. Menurut data yang saya dapatkan dari hasil menyimak tutur dawuh kiyai saya, seseorang bisa dikatakan santri ketika sudah memenuhi tiga ketegori, yaitu:  

          1.      Orang yang pernah mondok, baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek
          2.      Orang yang tidak pernah mondok, akan tetapi berperilaku layaknya seorang santri
          3.      Orang yang pernah mondok, akan tetapi perilakunya seperti orang yang tidak pernah mondok.

Mari kita bahas dari kategori pertama, bahwa memang seseorang bisa dikatakan sebagi santri apabila dia sudah pernah merasakan berdiam diri di pesantren, dalam artian berdiam diri adalah pernah merasakan dunia pesantren dan kegiatan yang ada didalamnya. Seseorang yang tidak pernah bermukim di pesantren pun bisa dikatakan seorang santri, sesuai dengan pernyataan kedua tadi, dalam artian dalam perilakunya setiap hari mencerminkan layaknya seorang santri. Seperti, sholat jama’ah setiap waktu, sopan santun, sering bangun malam dan melakukan tahajud, dan kegiatan-kegiatan yang lain.

Sedangkan kategori yang ketiga, mencerminkan bahwa ada seorang santri akan tetapi didalam pesantrennya dia bersikap layaknya bukan santri (anggap saja kasarnya preman). Kategori yang seperti ini yang jarang dijamah oleh masyarakat umum. Bahwa tidak semuanya santri yang bermukim di pondok pesantren itu bisa dikatakan santri yang baik. Bagi kalangan santri, diharapkan jangan menjadi kategori yang ketiga ini La takun tsalitsan, karena jelas-jelas ini mencoreng nama baik pesantrennya dimata masyarakat.


Oleh karena itu, apapun yang orang-orang katakan tentang pengertian santri belum tentu benar sebelum dirinya sendiri merasakan hidup dilingkungan pondok pesantren.

Selasa, 20 Oktober 2015

Inilah Saatnya (2): Emosi dan Kehancuran


Inilah Saatnya (2): Emosi dan Kehancuran

Amarah dan duka/menjadi jeladri dendam/bola-bola api tak terkendali/yang membentur diri sendiri/dan memperlemah perlawanan/Sebab seharusnya perlawanan/membuahkan perbaikan/bukan sekedar penghancuran

***

Proses berjalannya hidup manusia yang secara tidak langsung dipenuhi dengan berbagai cobaan, akan membuahkan hasil yang bervariasi ketika setiap orang dibenturkan dengan cobaan itu. Adakalanya berbuah negatif dan ada pula yang positif. Dari situlah kemudian muncul kecenderungan berfikir dan bertindak dari manusia sesuai dengan cobaan-cobaan yang mereka alami.

Dalam hal ini, kebanyakan dari individu manusia ketika dibenturkan dengan cobaan yang negatif akan menumbuhkan benih-benih amarah dan dendam tersendiri, yang nantinya bermuara kepada kebuntuan berfikir sehingga membuat tindakan individu tersebut negatif pula. Karena dari apa yang mereka alami tidak relevan dengan harapan sebelum cobaan itu datang, sehingga jika individu itu tidak bisa mengontrolnya maka timbul lah emosi.

Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi juga bisa dikatan sebagai reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, atau pun takut terhadap sesuatu.

Dari pengertian emosi diatas sudah jelas bahwa kejadian-kejadian yang telah manusia lewati, yang bertentangan dengan dirinya sendiri. Bentuk luapan emosipun bisa disesuaikan dengan keadaan dimana seseorang bisa merasakannya saat itu juga. Bisa saja dengan sebuah perlawanan kepada penyebab timbulnya emosi itu sendiri.

Pada hakikatnya, rasa emosi yang manusia alami bisa dikendalikan dengan baik tanpa melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Akan lebih parah lagi apabila  emosi tersebut tidak bisa terkendali karena dari sekian banyak amarah dan dendam yang tertampung dalam dirinya. Kecenderungan individu yang seperti itu tidak akan mampu untuk mengendalikan emosi tersebut, dan membuat tingkah laku semakin ngawur tidak tentu arahnya, sehingga akan membentuk sebuah perlawanan.

Perlawanan adalah salah satu bentuk luapan emosi seseorang yang tidak terkendali, dengan melakukan perlawanan itu seseorang akan merasa puas dengan kegagalan yang menyebabkan emosi hadir dalam dirinya.

Bentuk perlawanan disini yang seharusnya cenderung kepada perbaikan diri sendiri dengan harapan menghilangkan emosi itu, malah berbalik arah semakin menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, ketika emosi sudah tidak bisa dikendalikan, maka hal apapun akan terjadi, dan seseorang tidak lagi sempat untuk menggagas sesuatu yang lebih baik karena pikirannya sudah tumpul karena emosi sudah terlanjur menguasainya.

Akhirnya, seseorang yang sudah terlanjur terjebak dalam emosi yang seperti itu sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri, sehingga perlawanan yang mulanya diharapkan untuk perbaikan malah menjadi kehancuran. Inilah akibatnya jika seseorang yang emosinya sudah meluap dan kesadaranpun hilang. Dan yang tersulit adalah untuk menetralisir emosi agar tidak menguasai pikiran seseorang.


Sastra "Mungkin harus seperti itu"

Mungkin harus seperti itu

Tak ada jarak antara suka dan duka
Seperti langkah yang selama ini kami berikan kepada mereka
Sudah saatnya, keputusan untuk segera ditetepkan
Agar kami rela untuk melepas sistem yang berbenturan
Dari segi kemanusiaan, dari segi ketuhanan
Dan dari segi keberingasan sebuah konstitusi yang banyak memakan korban

Jika seekor singa menerkam mangsanya dengan cara mencabik-cabik
Mungkin harus seperti itu caranya
Agar dengan mudah melemahkan lawannya
Lalu menyantapnya

Begitupun kami,
Seorang demonstran yang geram terhadap sistem
Yang membutuhkan perhatian dari atasan
Ketika suara kami tidak bisa dicerna dengan baik
Maka kami yang akan mencernanya

Mungkin harus seperti itu
Agar mereka bisa memahami kami yang lugu
Yang hanya dituntut untuk menunggu dan menunggu
Hingga akhirnya, mereka kami anggap sebagai babu

Mampus kau diserang batu


Yogyakarta, 20 Oktober 2015

Minggu, 18 Oktober 2015

Arena Kampus


Pembekuan perguruan tinggi membuat banyak pihak rugi
Keputusan pemerintah untuk menonaktifkan 234 perguruan tinggi swasta se-Indonesia menggemparkan bahtera pendidikan negeri ini. Bagaimana tidak, adanya perguruan tinggi merupakan salah satu alternatif mahasiswa yang tidak lolos tes seleksi perguruan tinggi negeri untuk benar-benar menuntaskan pendidikannya ke jenjang itu. Lebih mengerikan lagi kalau perguruan tinggi swasta tersebut sudah menjadi incaran dari dulu. Betapa kecewa perasaan mahasiswanya bila masalah yang ada tidak segera ditangani.

Bukan hanya itu, ada juga sebagian mahasiswa semester akhir yang sudah proses pembuatan skripsi harus merelakan skripsinya berhenti ditengah jalan. Kekecewaan yang sangat besar perasaan mereka, setelah tiga tahun lebih menimba ilmu ternyata harus dihentikan ditengah jalan. Dan bukan hanya mahasiswa aktif yang merasakan imbasnya, melainkan mahasiswa yang sudah tidak aktif lagi (alumni), sebagian dari mereka ada yang sudah sukses dari perguruan tinggi tersebut harus berhenti bekerja dahulu dan mengurus administrasi kembali.

Dalam kenyataannya, bahwa terdapat beberapa kesalahan yang memang perlu diperbaiki pada perguruan tinggi tersebut, hendaknya perbaikan harus segera dilakukan sehingga harapan para mahasiswa dikampus tersebut tidak terpotong ditengah jalan untuk melanjutkan studi lagi. Pemerintah harus tetap memantau dan mendesak perguruan tinggi tersebut untuk cepat-cepat berbenah diri. Tidak ada solusi lain bagi para mahasiswa selain mogok belajar selama proses pembenahan itu belum selesai, selain itu bisa juga membantu pemerintah untuk selalu mendesak pihak kampus agar pembenahan secara administrasi dan sistem segera terselesaikan.

Untuk melanjutkan aktifitas belajar, mahasiswa cukup menggali, menggali, dan menggali pengetahuan apa yang ingin mereka dapatkan selama mengikuti perkuliahan dikampus tersebut. Toh walaupun tidak didalam kelas, ilmu itu ada dimana-mana selagi mahasiswa mempunyai kemauan untuk mencarinya.

Dan terkait dengan alumni yang bermasalah dalam kerjanya karena dia alumni dari perguruan tinggi tersebut, tidak boleh tidak harus mengurus kembali administrasi dari awal demi keberlancaran kerja mereka selanjutnya. Tanpa disadari bahwa pembekuan yang selama ini sudah terealisasikan terhadap beberapa perguruan tinggi itu menjatuhkan banyak korban, yaitu mahasiswa, alumni, dan pihak kampus tersendiri.

Inilah sebuah peringatan bagi perguruan tinggi swasta lainnya untuk lebih memperbaiki lagi sistem yang ada, agar tidak terjerumus kelubang yang sama. Dan jalan keluar bagi perguruan tinggi yang sudah terlanjur basah oleh pembekuan yang ada, harus segera ditangani dengan semestinya agar mahasiswa bisa kembali belajar dengan normal dan alumninya bisa kembali bekerja dengan semestinya.

Perlu diketahui bahwa tujuan berdirinya perguruan tinggi adalah memberikan pengetahuan dan pengalaman yang kuat bagi seluruh manusia yang haus akan ilmu pengetahuan, bukan hanya sekedar perbaikan dari luar dan menelantarkan apa saja yang ada didalamnya, akan tetapi memperkuat dan memperbaiki dari dua sisi, yaitu luar dan dalam.

Selasa, 13 Oktober 2015

Inilah Saatnya (1): Perjalanan Hidup

Inilah Saatnya (1): Perjalanan Hidup

Inilah saatnya / melepas sepatu yang penuh kisah / meletakkan ransel yang penuh masalah / dan mandi mengusir rasa gerah / menenangkan jiwa yang gelisah

***
Hidup yang manusia jalani saat ini memiliki tujuan yang pasti untuk masa depan nanti, sekiranya tidak merasa terbebani, dan cenderung kepada kedamaian hati. Akan tetapi dalam kenyataannya, hidup tidak semudah apa yang kita kira, terdapat banyak hal yang harus kita lewati berupa rintangan yang tidak mudah untuk dihindari. Adakalanya rintangan berupa cobaan atau godaan, atau cobaan yang berupa godaan, begitupun sebaliknya, itu adalah merupakan hal yang wajar-wajar saja dalam bahtera kehidupan, agar kita memiliki kesadaran dan kepekaan diri.

Jika kemarin, seminggu atau sebulan yang lalu kita bisa lolos melewati rintangan yang berupa cobaan, mungkin sekarang atau hari esok kita akan dihadapkan dengan yang namanya godaan, begitu pula rintangan lainnya yang akan menyusul hari demi hari. Tidak satupun dari kita bisa menghindar dari rintangan itu, walaupun wujudnya tidak ada akan tetapi ia akan menyerupai apa saja tanpa kita sadari.

Inilah saatnya kita mulai pembaharuan dalam hidup, dari yang negatif menuju positif, buruk menjadi baik, miskin menjadi kaya, malas menjadi giat, marah menjadi tenang, dan lain sebagainya. Sehingga terwujudlah cita-cita yang mulia, meringankan beban yang selama ini menggantung dibawah ketiak, dan mencari selimut hati untuk kedamaiannya.

Kita tinggalkan masalalu yang busuk berupa sikap atau perkataan yangpenuh dengan pertentangan saat ini, dan itu dimulai pada saat kesadaran telah hadir dalam diri kita. Kesadaran yang berupa tindakan ataupun perasaan yang selama ini enggan hadir karena besarnya ego, kesadaran bahwa sikap egois perlu diletakkan pada tempatnya.

Perlu adanya kesejukan dalam jiwa yang bisa dirasakan dengan nayata, mengusir ego yang sudah lama mengendap di kepala, dan memunculkan gerakan yang selama ini buram menjadi terang dipandang mata. Karena hanya kesejukanlah yang kita butuhkan saat ini agar tidak terombang ambing seolah-olah seperti berjalan ditempat saja.

Ketenangan jiwa tidak adakan pernah menghampiri hidup manusia tanpa adanya pembaharuan hidup seperti di atas. Hidup itu tidak bisa indah jika hanya stagnan ditempat, jika ingin memperoleh kemajuan yang diinginkan maka berilah jalan untuk kehidupan. Mungkin kemarin dan saat ini adalah rintangan berupa cobaan atau godaan yang menguasai manusia, akan tetapi saat ini, esok, dan seterusnya bagaimana kita sebagai manusia bisa menguasai rintangan tersebut.


Kuncinya adalah saatnya kita sebagai manusia bisa menguasai diri kita sendiri dari apapun yang terlepas dari kesadaran kita sebagai manusia, karena manusia sejati adalah manusia yang bisa maju kedepan, bukan mundur kebelakang, apalagi hanya berdiam diri ditempat yang itu hanya akan menimbulkan kebosanan yang berkepanjangan.

Selasa, 06 Oktober 2015

SASTRA


Cinta: Antara Keinginan dan Kebutuhan
Sederhana merupakan perbuatan yang tidak berlebihan, sama halnya perasaan cukup pada seseorang. Ketika rasa sederhana telah muncul dalam diri seseorang, maka terasa pulalah kecukupan dalam dirinya. Begitu pun sebaliknya, jika kecukupan telah merajai perasaan seseorang maka di situlah letak kesederhanaan yang ada.
Begitu pula halnya dengan kesederhanaan cinta, seperti yang diungkapkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono, bahwa mencintai dengan sederhana hanya dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu dan juga dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Nampak sesederhana seperti itulah cinta yang seharusnya berkembang dari para pecinta, baik cintanya pria kepada wanitanya atau wanita kepada prianya.
Mari kita telaah sedikit saja terkait syair dari Sapardi tersebut. Bahwa begitu tulus dan sederhana perasaan cinta seseorang apabila seperti kayu yang tak sempat mengucapkan perasaannya kepada api, sehingga menjadikannya abu. Api tidak pernah tahu, bahwa kayu telah merelakan dirinya untuk di kuasai olehnya, sampai kayu itupun menjadi abu.
Api tidak akan pernah tahu jika kayu merelakan dirinya untuk di kuasai olehnya, sampai akhirnya kayu itu dengan sendirinya menjadi abu karenanya. Perasaan cinta yang di analogikan seperti diatas mempunyai makna bahwa, bercinta dengan cara sirrun, atau rahasia. Cinta yang seperti inilah yang jarang ada pada kalangan remaja pada saat ini, meskipun ada tidak akan sampai total seperti kerelaan kayu kepada api diatas.
Manusia memiliki nafsu yang tidak bisa di lepaskan dalam dirinya, sesuai dengan kodratnya bahwa manusia adalah nafs dalam bahasa arab. Nafsu yang di miliki oleh manusia merupakan nafsu bawaan yang memang sudah ada dan permanen dalam dirinya. Nafsu bisa menguasai segalanya dalam segala struktur kerja manusia, begitu pun dengan adanya nafsu mencintai.
Maksud dari nafsu mencintai di sini adalah, bahwa tidak akan pernah ada cinta tanpa di landasi oleh rasa nafsu, baik itu nafsu untuk memiliki lawan jenis, maupun nafsu-nafsu lain yang mencederai kesucian cinta. Sehingga kesederhanaan cinta tidak akan pernah di temukan dalam cinta, jika nafsu tetap berkeliaran dalam jiwa manusia.
Untuk mencapai kesederhanaan cinta kita harus bisa membedakan mana yang di sebut hasrat atau keinginan dan kebutuhan. Maksud keinginan di sini cenderung dengan keikut campuran nafsu dalam tindakan manusia yang nantinya akan mengarah kepada kepuasan yang tidak henti-hentinya. Kalau kebutuhan, seolah-olah itu adalah bagian dari manusia yang tidak bisa lepas darinya, contohnya seperti makan, minum, tidur, dan lain sebagainya.
Kecenderungan manusia untuk memiliki segalanya, termasuk segala sesuata yang ada dalam cinta, itu bisa mencederai pada hakikat dari kesederhanaan cinta, dan hal yang seperti itulah merupakan bagian dari hasrat atau keinginan dari manusia. Jika nafsu telah menguasai manusia, maka segala keinginan yang di inginkan seolah-olah harus nampak di depannya.
Alangkah lebih indahnya jika kebutuhan yang menguasai diri manusia, niscaya segala sesuatu yang dia butuhkan akan lebih terorganisir dan terteta dengan rapi. Cinta seharusnya merupakan kebutuhan bagi manusia, kebutuhan rohani yang harus benar-benar di rasakan dengan hati, tidak ada ikut campur nafsu di dalamnya, sehingga menimbulkan kesederhanaan dari cinta itu sendiri.