Kamis, 03 Desember 2015

Dinamika Orang Tua dan Anak

Bayangan Keluarga
Kalau ditanya siapa yang telah membesarkan kita, pasti jawabannya adalah orang tua. Karena dialah yang telah merawat kita dari kecil hingga dewasa, dari ketika kita belum mengetahui apapun tentang dunia, hingga kita paham segalanya, digiring untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, dengan meletakkan kita pada posisi-posisi tertentu sesuai dengan bidangnya.  Kalau ada orang yang berani mengajarkan kita kesabaran dan kedisiplinan, maka itu adalah orang tua. Karena hanya kepada merekalah kita bisa berkaca, kesabaran yang ia miliki sangatlah besar adanya, dan itu sudah terbukti ketika kita sudah mulai menginjak dewasa hingga saat ini. Kedisiplinan pun begitu.

Kita mesti bersyukur kepada mereka, dengan segala upaya yang telah mereka lakukan untuk mensukseskan kita sebagai anknya, dan hanya dengan rasa syukur itulah kita bisa membalas apa pun yang telah mereka tuangkan kepada kita. Tidak bisa jika rasa syukur dilepaskan begitu saja dalam diri kita, kalau pun itu ada, maka kita dicap sebagai anak yang durhaka. Walau pun dengan penuh keterpaksaan sekali pun, namun itu bukan menjadi suatu alasan untuk kita tidak bersyukur.

Bagaimana rasa syukur itu akan hilang. Coba kita tengok kebelakang, jauh sebelum kita diciptakan sebagai manusia, jauh sebelun kita berproses untuk menjadi manusia luar bisa, yang sampai detik ini pun peran orang tua masih kita rasakan tanpa disadari. Hingga kita diciptakan oleh mereka, dari semenjak balita, menuju kanak-kanak, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia pun kita tidak bisa melepaskan besar jasanya secuil pun tidak akan bisa.

Karena, proses dari kita kanak-kanak menuju anak-anak yang pada saat itu kita dimanja dan dituntun ke arah yang belum kita ketahui sebelumya. Seperti, kita diajari untuk berdiri, buang kotoran yang baik dan ditempat yang selayaknya, berbicara, hingga bersepeda untuk menuju ke sekolah dan bermain dengan teman sebaya. Tidak sedikit pun momentum seperti itu kita melewatinya begitu saja, dan rentetan momentum itu harus diakui sewajarnya oleh kita.

Proses selanjutnya adalah dari anak-anak menuju remaja, ini bisa dikatakan merupakan momentum paling sulit bagi orang tua untuk menuntun kita. Mempersiapkan taktik jitu sebagai orang tua untuk anaknya agar tidak salah pergaulan atau terjerumus kedalam jurang yang berbahaya. Proses transisi inilah yang juga tidak kita sadari, bahwa disini kita diajarkan untuk enar-benar manut kepada taktik jitu yang telah dipersiapkan itu. Dengan problema masa remaja yang menakutkan, seperti pergaulan bebas tentunya, tidak heran jika orang tua benar-benar menginginkan anaknya untuk menjuhi hal tersebut, misalnya dititipkan ke pondok pesantren terdekat untuk mempermudah pengawasan mereka kepada anknya (seperti itu yang penulis rasakan).

Dinamika kehidupan seterusnya adalah dari remaja menuju dewasa dan lanjut usia. Disini seorang orang tua sebagai mengamat anaknya harus benar-benar jeli dalam penempatan posisinya. Karena, terbentuknya karakter seorang anak bisa dilihat sejak momentum keremajaannya sedang dijalaninya. Sebagai orang tua, tidak akan rela jika anaknya rusak dalam proses ini, untuk masa depan yang panjang mendatang, tentunya momentum-momentum sebelunya itu juga panjang.

Dari tahap remaja menuju dewasa dan lansia ini seorang anak juga harus memahami peran dirinya sebagai anak, dia harus berpikir maju dan menerawang ke depan tentunya, dengan berbagai ilmu yang telah ia tempuh dari semenjak proses pertama tadi. Apa yang telah mereka peroleh dari orang tua, diharapkan untuk segera dipraktekkan selues mungkin dalam proses ini. Karena disitulah orang tua akan merasa bangga kepada anaknya, dan merasakan jerih payah yang selama ini telah ia korbankan demi terbentunya pribadi seorang anak.

Menjadi seorang anak tidak mudah, pun begitu menjadi orang tua. Karena masing-masing memiliki tujuan tersendiri, yaitu, seorang anak harus membahagiakan orang tua, dan orang tua harus membentuk anaknya sebagai manusia yang utuh untuk kedepannya. Dan pada saatnya, seorang anak juga akan menjadi orang tua terhadap anak-anaknya, akan melakukan proses sedemikian rupa. Karena itulah dinamika kehidupan seorang anak dan orang tua,


Selasa, 24 November 2015

Darimu aku tahu segalanya


Darimu aku tahu segalanya

Mungkin sejak saat jejak kaki bergumuruh
lontaran kata pernak-pernik penuh peluh
dan canda tawa tangis sedih mulai tak beraturan
semenjak itu pula kau memulai perkenalan

Dimulai dari belum berpengetahuan apapun
saat itu aku masih buta huruf, begitu juga angka
dengan penuh kejelian dan kesabaran
kau mencekokiku huruf dan angka itu penuh makna

Hingga aku tahu segalanya

Sekarang lihatlah
begitu lihai anakmu ini berbicara
begitu mahir merangkai kata
begitu pandai dalam urusan angka-angka
seolah telah paham akan dunia

Dimulai dari titik nol
yang tak mempunyai arti
bahkan terlihat tolol
aku ini

Kau marahi aku
ketika aku tak tahu
kau caci maki
tanpa aku sadari
mungkin itu caramu
untuk sekedar memperbaiki hasilku

Terimakasih atas jasamu
untukku dan masa depanku




Senin, 02 November 2015

Antara yang ‘Tua’ dan yang ‘Muda’



Antara yang ‘Tua’ dan yang ‘Muda’

Mengenang ketika masa kanak-kanak, saat usia kurang lebih lima tahunan, tepatnya pada waktu duduk di kelas Taman Kanak-kanak (TK). Entah kenapa seorang guru pasti bertanya kepada mereka  perihal cita-cita kedepan, “ingin jadi apa kelak nak?”, pertanyaan semacam itu pasti tidak asing lagi bagi anak seumuran itu, dimana pun, sekolah TK mana pun, dan di daerah mana pun, pertanyaan itu seolah wajib bagi mereka. Jawaban mereka pun hampir serempak tidak jauh beda antara satu dengan yang lainnya, antara menjadi seorang dokter, pilot, guru, dan bahkan sampai kepada presiden. Meskipun ada segelintir satu atau dua orang yang mengatakan ingin menjadi seperti orang tuanya. 

Kecenderungan untuk mempunyai cita-cita seperti itu karena pengetahuan mereka hanya sebatas itu-itu saja, bahwa jika menjadi seorang dokter akan banyak membantu orang, bisa melihat dunia ketika terbang sebagai pilot, memberikan sebagian pengalaman dan ilmu dari pekerjaan guru, dan terlihat berwibawa serta disegani ketika menjadi seorang presiden. Seolah mereka paham dan mengerti akan profesi itu semua, padahal mereka hanya mendapatkan segelintir pengetahuan tentang itu dari gurunya.

Tanpa disadari setelah usia mereka beranjak dewasa, cita-cita mulia tersebut hilang begitu saja, bahkan ada yang secara tidak langsung membenci profesi yang dulunya sangat diharapkan. Semua itu merupakan kelalaian dari perhatian orang yang selalu ada disampinya, yaitu orang tua, dia beranggapan bahwa apa yang mereka cita-citakan waktu kecil hanya ‘omong kosong belaka’, tidak mampu untuk menanamkan pemahaman lebih lanjut akan hal itu.

Seiring dengan perkembangan manusia pada umumnya, mereka yang dulunya polos dan hanya bisa manut saja, sudah berubah menjadi seorang ‘pemuda’, yang tentunya sudah mempunyai pandangan hidupnya dimasa mendatang. Seorang pemuda yang ‘katanya’ identik dengan agen of change, agen social of control, mampu memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap bangsa dan negerinya.

Orang tua sebagai yang sudah banyak pengalaman dan mempunyai banyak cerita pada masa mudanya, saatnya memberikan warisan semangat untuk anak-anaknya, sehingga benar-benar menjadi pemuda yang seutuhnya, dalam artian melakukan kewajibannya sebagai pemuda bangsa dan sebagai ahli waris dari orang tua atau pun kakek nenek mereka.

Kalau saya mengatakan bahwa ‘waktunya yang muda menghormati yang tua, dan yang tua mengayomi yang muda’. Sudah saatnya memikirkan cita-cita yang benar-benar diinginkan olehnya, bukan hanya menjadi omong kosong lagi. Sudah saatnya membuktikan bahwa mereka mampu untuk melangkah lebih cepat agar tidak tertinggal jauh.

Peran dari orang yang lebih tua memang sangat penting, diketahui bahwa yang tua lebih berpengalaman dari yang muda. Setidaknya memberikan dukungan dan pengawasan terhadap apa yang akan diperbuatan oleh kaum pemuda, yang saat ini memang bagian mereka untuk merubah dunia, mereka yang lebih tetap progresif untuk selalu melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada perubahan. Dimulai dari hal yang sederhana, yaitu mengaplikasikan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila sebagai pedoman hidup bagi seluruh warga Indonesia.

Pemuda merupakan wajah-wajah baru yang bermunculan, dan saatnya yang baru membuat hal-hal baru juga. Sudah memasuki masanya untuk merubah segalanya, tentunya dalam hal positif untuk kemajuan berpikir menuju bangsa yang maju. Sedangkan yang tua sebagai pengawal saja.

Jumat, 23 Oktober 2015

Dibalik Penetapan Hari Santri Nasional


Dibalik Penetapan Hari Santri Nasional

Hari santri nasional yang baru memasuki tahun pertama ini merupakan sebuah ide tersendiri dari presiden Ir. Joko Widodo, yang pada waktu kampanye calon presiden dan wakil presiden tahun 2014 lalu memberikan tawaran terkait dengan hari santri nasional. “kalau saya menjadi presiden, saya akan meresmikan hari santri nasional pada tanggal 1 Muharram” Dikutip dari sambutan ketua PBNU KH. Said Aqil Siraj sebelum memberangkatkan kirab santri di Surabaya Pada 22 Oktober 2015. Beliau menyampaikan apa yang pernah disampaikan presiden satu tahun lalu.

Namun menurut ketua PBNU itu, tawaran yang disampaikan oleh presiden tidak tepat karena pada tanggal 1 Muharram itu merupakan tahun baru hijriyah, dan pada tanggal itu bukan hanya umat Islam di Indonesia saja yang merayakannya, namun umat Islam seluruh dunia ikut andil dalam tanggal tersebut. Lalu kemudian beliau memberikan tanggal yang tepat untuk hari santri nasional, yaitu pada tanggal 22 Oktober, berkaca pada sejarah bahwa pada tanggal itu merupakan perlawanan seluruh santri yang turut andil melakukan perlawanan pada tetara inggris yang tetap ingin menguasai Indonesia yang dipimpin langsung oleh Alm. KH. Hasyim Asy’ari.

Santri memang mempunyai peran yang sangat penting waktu itu, seluruh santri dari pulau Jawa dan Madura ikut dalam memerangi penjajah, yang sebelumnya dicetuskan fatwa resolusi jihad oleh KH. Hasyim Asy’ari. Selain itu, alasan yang sangat kuat adalah tidak mungkin ada hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November kalau tidak ada resolusi jihad tersebut, dan resolusi jihad tidak akan ada tanpa Nahdlatul Ulama’, sedangkan Nahdlatul Ulama’ tidak akan ada tanpa santtri. Jadi hal tersebut merupakan rentetan yang sambung menyambung dan tidak bisa dilupakan, karena itu sebagian dari sejarah Indonesia.

Sebelas ormas Islam yang tergabung dalam lembaga persaudaraan ormas Islam yaitu, Al-Irsyad, PUI, Persis, Matla’al Anwar, Syarikat Islam, Perti, Ikadi, Piti, Rabitoh Alawiyah, Al- wasliyah, dan Al-ittihadiyah menyepakati bersama bahwa tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional.

Untuk perayaan hari santri nasional pada tahun pertama ini bisa dikatakan istimewa, dengan alasan serba angka sembilan yaitu pada tanggal 9 Muharram, bintang yang dimiliki Nahdlatul Ulama’ ada sembilan, dan walinya pun sembilan. Itu merupakan keistimewaan yang luar biasa, dan semoga menjadi awal yang baik untuk kedepannya.

Peringatan hari santri nasional ini diharapkan agar santri memperkuat tali emosional serta peduli terhadap bangsa, khususnya umat Islam seluruh Indonesia, yang merupakan ujung tombak dari bangsa ini sehingga bisa mempertahankan keselamatan dan keutuhan NKRI. Sesuai dengan cita-cita KH. Hasyim Asy’ari yang jauh sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama’ dan NKRI, bahwa beliau ingin mengkolaborasikan antara semangat Islam dan semangat nasionalisme, Islam saja belum bisa menyatukan Indonesia, harus mempunyai komitmen kebangsaan (komitmen wathoniah), nasionalisme akan menjadi kering tanpa nilai-nilai spirit agama. Oleh karena itu, Islam dan nasionalisme jangan dipertentangkan. itulah cita-cita beliau sekaligus pesan terhadap umat Islam yang ada di Indonesia.

Jadi, tidak salah jika presiden Ir. Joko Widodo menetapkanadanya hari santri nasional, karena semangat nasionalisme dan kesadaran akan berbangsa dan bernegara tetap ada dalam jiwa rakyat Indonesia.

Rabu, 21 Oktober 2015

“Santri” : Siapa sih?

“Santri” : Siapa sih?
Krrrriiingggggg............... “jam menunjukkan pukul 02.30 Wib seluruh sahabat-sahabat santri dimohon untuk bangun dan berwudu’ karena solat tahajud berjama’ah akan segera dimulai”

Bisa dibayangkan tidak bagi kalian yang belum pernah bermukim di pondok pesantren (mondok), masih pagi buta seperti itu disuru bangun dengan secara terpaksa, masih disuru ambil air wudu’ sudah tahu dinginnya minta ampun. Pokoknya ngenes jadi seorang santri.

Orang yang belum pernah menjamah dunia pesantren akan heran dan tertegun ketika mendengar istilah “santri” pertama kali. Mereka akan mengira bahwa sosok seorang santri adalah orang yang alim, tekun beribadah, sopan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, seorang santri bisa juga dikatakan seseorang yang rakus, tamak, dan egois (dalam hal keilmuan).

Pada umumnya, semua orang akan mengartikan istilah santri dengan hal-hal kebaikan, super, dan apalah yang seolah-olah santri adalah makhluk paling sempurna dimuka bumi ini. Sebenarnya tidak sekecil itu pengertian santri. Menurut data yang saya dapatkan dari hasil menyimak tutur dawuh kiyai saya, seseorang bisa dikatakan santri ketika sudah memenuhi tiga ketegori, yaitu:  

          1.      Orang yang pernah mondok, baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek
          2.      Orang yang tidak pernah mondok, akan tetapi berperilaku layaknya seorang santri
          3.      Orang yang pernah mondok, akan tetapi perilakunya seperti orang yang tidak pernah mondok.

Mari kita bahas dari kategori pertama, bahwa memang seseorang bisa dikatakan sebagi santri apabila dia sudah pernah merasakan berdiam diri di pesantren, dalam artian berdiam diri adalah pernah merasakan dunia pesantren dan kegiatan yang ada didalamnya. Seseorang yang tidak pernah bermukim di pesantren pun bisa dikatakan seorang santri, sesuai dengan pernyataan kedua tadi, dalam artian dalam perilakunya setiap hari mencerminkan layaknya seorang santri. Seperti, sholat jama’ah setiap waktu, sopan santun, sering bangun malam dan melakukan tahajud, dan kegiatan-kegiatan yang lain.

Sedangkan kategori yang ketiga, mencerminkan bahwa ada seorang santri akan tetapi didalam pesantrennya dia bersikap layaknya bukan santri (anggap saja kasarnya preman). Kategori yang seperti ini yang jarang dijamah oleh masyarakat umum. Bahwa tidak semuanya santri yang bermukim di pondok pesantren itu bisa dikatakan santri yang baik. Bagi kalangan santri, diharapkan jangan menjadi kategori yang ketiga ini La takun tsalitsan, karena jelas-jelas ini mencoreng nama baik pesantrennya dimata masyarakat.


Oleh karena itu, apapun yang orang-orang katakan tentang pengertian santri belum tentu benar sebelum dirinya sendiri merasakan hidup dilingkungan pondok pesantren.

Selasa, 20 Oktober 2015

Inilah Saatnya (2): Emosi dan Kehancuran


Inilah Saatnya (2): Emosi dan Kehancuran

Amarah dan duka/menjadi jeladri dendam/bola-bola api tak terkendali/yang membentur diri sendiri/dan memperlemah perlawanan/Sebab seharusnya perlawanan/membuahkan perbaikan/bukan sekedar penghancuran

***

Proses berjalannya hidup manusia yang secara tidak langsung dipenuhi dengan berbagai cobaan, akan membuahkan hasil yang bervariasi ketika setiap orang dibenturkan dengan cobaan itu. Adakalanya berbuah negatif dan ada pula yang positif. Dari situlah kemudian muncul kecenderungan berfikir dan bertindak dari manusia sesuai dengan cobaan-cobaan yang mereka alami.

Dalam hal ini, kebanyakan dari individu manusia ketika dibenturkan dengan cobaan yang negatif akan menumbuhkan benih-benih amarah dan dendam tersendiri, yang nantinya bermuara kepada kebuntuan berfikir sehingga membuat tindakan individu tersebut negatif pula. Karena dari apa yang mereka alami tidak relevan dengan harapan sebelum cobaan itu datang, sehingga jika individu itu tidak bisa mengontrolnya maka timbul lah emosi.

Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi juga bisa dikatan sebagai reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, atau pun takut terhadap sesuatu.

Dari pengertian emosi diatas sudah jelas bahwa kejadian-kejadian yang telah manusia lewati, yang bertentangan dengan dirinya sendiri. Bentuk luapan emosipun bisa disesuaikan dengan keadaan dimana seseorang bisa merasakannya saat itu juga. Bisa saja dengan sebuah perlawanan kepada penyebab timbulnya emosi itu sendiri.

Pada hakikatnya, rasa emosi yang manusia alami bisa dikendalikan dengan baik tanpa melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Akan lebih parah lagi apabila  emosi tersebut tidak bisa terkendali karena dari sekian banyak amarah dan dendam yang tertampung dalam dirinya. Kecenderungan individu yang seperti itu tidak akan mampu untuk mengendalikan emosi tersebut, dan membuat tingkah laku semakin ngawur tidak tentu arahnya, sehingga akan membentuk sebuah perlawanan.

Perlawanan adalah salah satu bentuk luapan emosi seseorang yang tidak terkendali, dengan melakukan perlawanan itu seseorang akan merasa puas dengan kegagalan yang menyebabkan emosi hadir dalam dirinya.

Bentuk perlawanan disini yang seharusnya cenderung kepada perbaikan diri sendiri dengan harapan menghilangkan emosi itu, malah berbalik arah semakin menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, ketika emosi sudah tidak bisa dikendalikan, maka hal apapun akan terjadi, dan seseorang tidak lagi sempat untuk menggagas sesuatu yang lebih baik karena pikirannya sudah tumpul karena emosi sudah terlanjur menguasainya.

Akhirnya, seseorang yang sudah terlanjur terjebak dalam emosi yang seperti itu sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri, sehingga perlawanan yang mulanya diharapkan untuk perbaikan malah menjadi kehancuran. Inilah akibatnya jika seseorang yang emosinya sudah meluap dan kesadaranpun hilang. Dan yang tersulit adalah untuk menetralisir emosi agar tidak menguasai pikiran seseorang.