Sabtu, 26 September 2015

Cerpen Inspiratif Pemuda

Sajak Pemuda Desa

“ah kau ini, apa pula yang kau lakukan disini kawan?”
“alah seperti yang tak tau aku saja kau ini, sekarang aku kan sedang mendalami sajak-sajak, biar seperti itu rendra, kamu pasti tau itu”
“oh iya kah! Kalau begitu lanjutin saja aktifitasmu kawan, terus berkarya untuk bangsa ini”
“ok kawan siap”

Disudut desa inilah kami membiasakan aktifitas keseharian yang kami lakukan, hamparan sawah dan perkebunan menjadi inspirasi yang sangat luar biasa pada otak kami, ditambah dengan keadaan genting yang melanda desa kami. Kami sempat berfikir untuk memberikan sebuah motivasi untuk warga desa, agar mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan kegagalan yang sedang mereka hadapi.
Ya disini kami merasa mempunyai peran yang sangat penting untuk merubah keadaan yang menurut kami buruk menjadi lebih baik, karena kami sadar akan peran pemuda kepada seluruh warga yang ada di sekitarnya sangatlah berpengaruh, contohnya kami disini.

***

Pemuda itu andi namanya, pemuda yang mempunyai keinginan untuk melampiaskan amarahnya dalam sebuah sajak, dan sekaligus untuk menjadi motivator bagi warga desa kami. Dan aku sendiri widi, sebagai sahabat yang selalu memberi dukungan terhadap sahabatku andi. Aku sendiri juga ikut prihatin dengan keadaan warga di desa kami ini, desa yang cendrung memiliki sifat yang aman, tentram, dan lain sebagainya, menjadi desa yang tak karuan dengan munculnya isu-isu pengaruh dari luar.
Kebiasaan kami berdua adalah bersajak dimanapun tempat keramaian berada, entah itu di pasar, masjid, sekolah, pos kamling, dan sebagainya yang sekiranya warga merasa masih ada yang peduli terhadap meraka, dan sekaligus juga memberi cahaya terang terhadap kegelapan yang sedang melanda mereka.

“gimana kawan sudahkah kau temukan sajak apa yang pantas untuk kau tuangkan hari ini?” sapaku pada andi disela-sela waktu kosong kami
“ya pastilah ada, tapi apakah warga akan paham dengan sajak yang nantinya akan aku lantunkan dihadapan mereka?”
“ah kau ini an, kau malah merendahkan kemampuan warga desa ini dalam memahami sajak-sajakmu, wah jangan sampai mereka tau apa yang sudah kau katakan ini, bisa-bisa mereka tambah berkecil hati untuk menghadapi kehidupan ini” tegurku padanya. Aku memang tak setuju dengan perkataannya yang merendahkan kemampuan memahami sajak-sajaknya
“bukannya aku merendahkan kemampuan warga desa ini, tapi aku hanya merasakan kecemasan untuk hal itu. Percuma dong sajak-sajak ini aku buat tapi mereka tak paham !”
“sudahlah jangan banyak bicara kau itu, ungkapkan isi hatimu melalui sajak-sajakmu agar para warga juga bisa sedikit menjadi sadar, toh kamu kok belum melakukannya saja sudah menginginkan hasil an, pokonya sekarang kau bertindak terlebih dahulu, masalah hasil nanti bisa dilihat setelah itu”
“ok lah kalau begitu, akan aku coba terlebih dahulu, toh kemarin-kemarinnya mereka tak memberi aku teguran mengenai pekerjaanku ini. Lah kalau kamu sendiri gimana, adakah sajak untuk kau ungkapkan dihadapan para warga?”
“kau jangan pikirkan masalah sajakku dulu, sajakmu saja kau selesaikan, nanti aku nyusul gampang” aku berusaha membela diriku sendiri terhadap pertanyaan andi itu, sebenarnya aku belum menyiapkannya secara matang, tapi ada sedikit coretan penaku tersimpan dikamar.

***

Sore itu suasana cerah di desa kami, para warga melakukan aktifitas mereka denga lancar tanpa kendala, kami pun pada hari ini memutuskan untuk mengerjakan rutinitas kami, yaitu bersajak bebas di hadapan para warga. Sawahlah yang menjadi tempat pilihan kami bersajak hari ini, melihat para petani selesai bekerja dan mereka mengipaskan caping ke muka mereka. Aku perhatikan raut wajah mereka sepertinya sangat lelah sekali.

“an ayo cepat kau lantunkan sajakmu di sini saja sekarang, mumpung mereka sedang beristirahat”
“iya sebentar ini masih aku atur suara dan mental, eheem…
Dengan gagah andi berdiri di tengah-tengah sawah yang terhampar luas itu, dia perhatikan sekelilingnya sekali-sekali melirik ke arahku, dan….

Tanah Petani

Hamparan Luas di depan
Hukuman pantas di terapkan
Hentikan deras hujan di permukaan
Tempatmu
Tak lagi kau miliki
Pekerjaanmu
Tak lagi kau nikmati
Hasilmu
Tak lagi kau pungkairi
Dan
Sikapmu
Tak lagi dihargai
Ya
Pembajak itu telah mengambil semuanya darimu
Pembangkang itu telah kuasai kau dengan otaknya
Dan kau
Kau tak sadari itu
Kau tak pelejari itu
Kau tak wadahi itu
Sekarang
Apa yang kau rasakan.?
Penyesalan
Pertikaian
Perbuaian
Ah
Aku bisa rasakan apa yang kau rasakan sekarang
Tapi, kalau aku kau
Aku tak ambil diam
Aku tak izinkan penyesalan ada
Aku tak beri mereka ruang
Aku tak ajukan kesempatan
Dan sekarang
Aku akan menjadi kau
Aku akan batasi warna merah menjadi putih
Tak kubiarkan semua itu terjadi
Selama samudra itu berwarna biru
Dan api berwarna merah
Tak sedikitpun kaum kita membiarkan itu semua terjadi
Ayo
Ayo
Ayo
Waktu ini masih panjang
Warna ini akan tetap
Dan kita akan bisa menguasai penguasa yang berkuasa dengan kekuasaannnya.

Sejak itulah andi dan aku mulai memberi sedikit kesadaran kepada para petani, dan semoga mereka sadar akan keadaannya saat ini untuk kehidupannya di masa mendatang. Dan satu pesan moral disini adalah bahwa setiap menusia memiliki hak untuk memperbaiki hidupnya masing-masing dan mereka juga berhak untuk mendapatkan sesuatu yang pantas untuk diri mereka.


#Koplak



Tidak ada komentar:

Posting Komentar