Sajak Pemuda
Desa
“ah kau ini, apa pula yang kau lakukan disini kawan?”
“alah seperti yang tak tau aku saja kau ini, sekarang aku kan
sedang mendalami sajak-sajak, biar seperti itu rendra, kamu pasti tau itu”
“oh iya kah! Kalau begitu lanjutin saja aktifitasmu kawan, terus
berkarya untuk bangsa ini”
“ok kawan siap”
Disudut desa inilah kami membiasakan aktifitas keseharian yang kami
lakukan, hamparan sawah dan perkebunan menjadi inspirasi yang sangat luar biasa
pada otak kami, ditambah dengan keadaan genting yang melanda desa kami. Kami
sempat berfikir untuk memberikan sebuah motivasi untuk warga desa, agar mereka
tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan kegagalan yang sedang mereka hadapi.
Ya disini kami merasa mempunyai peran yang sangat penting untuk
merubah keadaan yang menurut kami buruk menjadi lebih baik, karena kami sadar
akan peran pemuda kepada seluruh warga yang ada di sekitarnya sangatlah
berpengaruh, contohnya kami disini.
***
Pemuda itu andi namanya, pemuda yang mempunyai keinginan untuk
melampiaskan amarahnya dalam sebuah sajak, dan sekaligus untuk menjadi
motivator bagi warga desa kami. Dan aku sendiri widi, sebagai sahabat yang
selalu memberi dukungan terhadap sahabatku andi. Aku sendiri juga ikut prihatin
dengan keadaan warga di desa kami ini, desa yang cendrung memiliki sifat yang
aman, tentram, dan lain sebagainya, menjadi desa yang tak karuan dengan
munculnya isu-isu pengaruh dari luar.
Kebiasaan kami berdua adalah bersajak dimanapun tempat keramaian
berada, entah itu di pasar, masjid, sekolah, pos kamling, dan sebagainya yang
sekiranya warga merasa masih ada yang peduli terhadap meraka, dan sekaligus
juga memberi cahaya terang terhadap kegelapan yang sedang melanda mereka.
“gimana kawan sudahkah kau temukan sajak apa yang pantas untuk kau
tuangkan hari ini?” sapaku pada andi disela-sela waktu kosong kami
“ya pastilah ada, tapi apakah warga akan paham dengan sajak yang
nantinya akan aku lantunkan dihadapan mereka?”
“ah kau ini an, kau malah merendahkan kemampuan warga desa ini
dalam memahami sajak-sajakmu, wah jangan sampai mereka tau apa yang sudah kau
katakan ini, bisa-bisa mereka tambah berkecil hati untuk menghadapi kehidupan
ini” tegurku padanya. Aku memang tak setuju dengan perkataannya yang
merendahkan kemampuan memahami sajak-sajaknya
“bukannya aku merendahkan kemampuan warga desa ini, tapi aku hanya
merasakan kecemasan untuk hal itu. Percuma dong sajak-sajak ini aku buat tapi
mereka tak paham !”
“sudahlah jangan banyak bicara kau itu, ungkapkan isi hatimu
melalui sajak-sajakmu agar para warga juga bisa sedikit menjadi sadar, toh kamu
kok belum melakukannya saja sudah menginginkan hasil an, pokonya sekarang kau
bertindak terlebih dahulu, masalah hasil nanti bisa dilihat setelah itu”
“ok lah kalau begitu, akan aku coba terlebih dahulu, toh
kemarin-kemarinnya mereka tak memberi aku teguran mengenai pekerjaanku ini. Lah
kalau kamu sendiri gimana, adakah sajak untuk kau ungkapkan dihadapan para
warga?”
“kau jangan pikirkan masalah sajakku dulu, sajakmu saja kau
selesaikan, nanti aku nyusul gampang” aku berusaha membela diriku sendiri
terhadap pertanyaan andi itu, sebenarnya aku belum menyiapkannya secara matang,
tapi ada sedikit coretan penaku tersimpan dikamar.
***
Sore itu suasana cerah di desa kami, para warga melakukan aktifitas
mereka denga lancar tanpa kendala, kami pun pada hari ini memutuskan untuk
mengerjakan rutinitas kami, yaitu bersajak bebas di hadapan para warga.
Sawahlah yang menjadi tempat pilihan kami bersajak hari ini, melihat para
petani selesai bekerja dan mereka mengipaskan caping ke muka mereka. Aku
perhatikan raut wajah mereka sepertinya sangat lelah sekali.
“an ayo cepat kau lantunkan sajakmu di sini saja sekarang, mumpung
mereka sedang beristirahat”
“iya sebentar ini masih aku atur suara dan mental, eheem…
Dengan
gagah andi berdiri di tengah-tengah sawah yang terhampar luas itu, dia
perhatikan sekelilingnya sekali-sekali melirik ke arahku, dan….
Tanah Petani
Hamparan Luas
di depan
Hukuman pantas
di terapkan
Hentikan deras
hujan di permukaan
Tempatmu
Tak lagi kau
miliki
Pekerjaanmu
Tak lagi kau
nikmati
Hasilmu
Tak lagi kau
pungkairi
Dan
Sikapmu
Tak lagi
dihargai
Ya
Pembajak itu
telah mengambil semuanya darimu
Pembangkang itu
telah kuasai kau dengan otaknya
Dan kau
Kau tak sadari
itu
Kau tak
pelejari itu
Kau tak wadahi
itu
Sekarang
Apa yang kau
rasakan.?
Penyesalan
Pertikaian
Perbuaian
Ah
Aku bisa
rasakan apa yang kau rasakan sekarang
Tapi, kalau aku
kau
Aku tak ambil
diam
Aku tak izinkan
penyesalan ada
Aku tak beri
mereka ruang
Aku tak ajukan
kesempatan
Dan sekarang
Aku akan
menjadi kau
Aku akan batasi
warna merah menjadi putih
Tak kubiarkan
semua itu terjadi
Selama samudra
itu berwarna biru
Dan api
berwarna merah
Tak sedikitpun
kaum kita membiarkan itu semua terjadi
Ayo
Ayo
Ayo
Waktu ini masih
panjang
Warna ini akan
tetap
Dan kita akan
bisa menguasai penguasa yang berkuasa dengan kekuasaannnya.
Sejak itulah andi dan aku mulai memberi sedikit kesadaran kepada
para petani, dan semoga mereka sadar akan keadaannya saat ini untuk
kehidupannya di masa mendatang. Dan satu pesan moral disini adalah bahwa setiap
menusia memiliki hak untuk memperbaiki hidupnya masing-masing dan mereka juga
berhak untuk mendapatkan sesuatu yang pantas untuk diri mereka.
#Koplak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar