Senin, 02 November 2015

Antara yang ‘Tua’ dan yang ‘Muda’



Antara yang ‘Tua’ dan yang ‘Muda’

Mengenang ketika masa kanak-kanak, saat usia kurang lebih lima tahunan, tepatnya pada waktu duduk di kelas Taman Kanak-kanak (TK). Entah kenapa seorang guru pasti bertanya kepada mereka  perihal cita-cita kedepan, “ingin jadi apa kelak nak?”, pertanyaan semacam itu pasti tidak asing lagi bagi anak seumuran itu, dimana pun, sekolah TK mana pun, dan di daerah mana pun, pertanyaan itu seolah wajib bagi mereka. Jawaban mereka pun hampir serempak tidak jauh beda antara satu dengan yang lainnya, antara menjadi seorang dokter, pilot, guru, dan bahkan sampai kepada presiden. Meskipun ada segelintir satu atau dua orang yang mengatakan ingin menjadi seperti orang tuanya. 

Kecenderungan untuk mempunyai cita-cita seperti itu karena pengetahuan mereka hanya sebatas itu-itu saja, bahwa jika menjadi seorang dokter akan banyak membantu orang, bisa melihat dunia ketika terbang sebagai pilot, memberikan sebagian pengalaman dan ilmu dari pekerjaan guru, dan terlihat berwibawa serta disegani ketika menjadi seorang presiden. Seolah mereka paham dan mengerti akan profesi itu semua, padahal mereka hanya mendapatkan segelintir pengetahuan tentang itu dari gurunya.

Tanpa disadari setelah usia mereka beranjak dewasa, cita-cita mulia tersebut hilang begitu saja, bahkan ada yang secara tidak langsung membenci profesi yang dulunya sangat diharapkan. Semua itu merupakan kelalaian dari perhatian orang yang selalu ada disampinya, yaitu orang tua, dia beranggapan bahwa apa yang mereka cita-citakan waktu kecil hanya ‘omong kosong belaka’, tidak mampu untuk menanamkan pemahaman lebih lanjut akan hal itu.

Seiring dengan perkembangan manusia pada umumnya, mereka yang dulunya polos dan hanya bisa manut saja, sudah berubah menjadi seorang ‘pemuda’, yang tentunya sudah mempunyai pandangan hidupnya dimasa mendatang. Seorang pemuda yang ‘katanya’ identik dengan agen of change, agen social of control, mampu memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap bangsa dan negerinya.

Orang tua sebagai yang sudah banyak pengalaman dan mempunyai banyak cerita pada masa mudanya, saatnya memberikan warisan semangat untuk anak-anaknya, sehingga benar-benar menjadi pemuda yang seutuhnya, dalam artian melakukan kewajibannya sebagai pemuda bangsa dan sebagai ahli waris dari orang tua atau pun kakek nenek mereka.

Kalau saya mengatakan bahwa ‘waktunya yang muda menghormati yang tua, dan yang tua mengayomi yang muda’. Sudah saatnya memikirkan cita-cita yang benar-benar diinginkan olehnya, bukan hanya menjadi omong kosong lagi. Sudah saatnya membuktikan bahwa mereka mampu untuk melangkah lebih cepat agar tidak tertinggal jauh.

Peran dari orang yang lebih tua memang sangat penting, diketahui bahwa yang tua lebih berpengalaman dari yang muda. Setidaknya memberikan dukungan dan pengawasan terhadap apa yang akan diperbuatan oleh kaum pemuda, yang saat ini memang bagian mereka untuk merubah dunia, mereka yang lebih tetap progresif untuk selalu melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada perubahan. Dimulai dari hal yang sederhana, yaitu mengaplikasikan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila sebagai pedoman hidup bagi seluruh warga Indonesia.

Pemuda merupakan wajah-wajah baru yang bermunculan, dan saatnya yang baru membuat hal-hal baru juga. Sudah memasuki masanya untuk merubah segalanya, tentunya dalam hal positif untuk kemajuan berpikir menuju bangsa yang maju. Sedangkan yang tua sebagai pengawal saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar