Antara yang ‘Tua’ dan yang ‘Muda’
Mengenang ketika masa kanak-kanak, saat usia kurang
lebih lima tahunan, tepatnya pada waktu duduk di kelas Taman Kanak-kanak (TK).
Entah kenapa seorang guru pasti bertanya kepada mereka perihal cita-cita kedepan, “ingin jadi apa
kelak nak?”, pertanyaan semacam itu pasti tidak asing lagi bagi anak seumuran
itu, dimana pun, sekolah TK mana pun, dan di daerah mana pun, pertanyaan itu
seolah wajib bagi mereka. Jawaban mereka pun hampir serempak tidak jauh beda
antara satu dengan yang lainnya, antara menjadi seorang dokter, pilot, guru,
dan bahkan sampai kepada presiden. Meskipun ada segelintir satu atau dua orang
yang mengatakan ingin menjadi seperti orang tuanya.
Kecenderungan untuk mempunyai cita-cita seperti itu
karena pengetahuan mereka hanya sebatas itu-itu saja, bahwa jika menjadi
seorang dokter akan banyak membantu orang, bisa melihat dunia ketika terbang
sebagai pilot, memberikan sebagian pengalaman dan ilmu dari pekerjaan guru, dan
terlihat berwibawa serta disegani ketika menjadi seorang presiden. Seolah
mereka paham dan mengerti akan profesi itu semua, padahal mereka hanya
mendapatkan segelintir pengetahuan tentang itu dari gurunya.
Tanpa disadari setelah usia mereka beranjak dewasa,
cita-cita mulia tersebut hilang begitu saja, bahkan ada yang secara tidak
langsung membenci profesi yang dulunya sangat diharapkan. Semua itu merupakan
kelalaian dari perhatian orang yang selalu ada disampinya, yaitu orang tua, dia
beranggapan bahwa apa yang mereka cita-citakan waktu kecil hanya ‘omong kosong
belaka’, tidak mampu untuk menanamkan pemahaman lebih lanjut akan hal itu.
Seiring dengan perkembangan manusia pada umumnya,
mereka yang dulunya polos dan hanya bisa manut saja, sudah berubah
menjadi seorang ‘pemuda’, yang tentunya sudah mempunyai pandangan hidupnya
dimasa mendatang. Seorang pemuda yang ‘katanya’ identik dengan agen of
change, agen social of control, mampu memberikan sumbangsih yang
sangat besar terhadap bangsa dan negerinya.
Orang tua sebagai yang sudah banyak pengalaman dan
mempunyai banyak cerita pada masa mudanya, saatnya memberikan warisan semangat
untuk anak-anaknya, sehingga benar-benar menjadi pemuda yang seutuhnya, dalam
artian melakukan kewajibannya sebagai pemuda bangsa dan sebagai ahli waris dari
orang tua atau pun kakek nenek mereka.
Kalau saya mengatakan bahwa ‘waktunya yang muda
menghormati yang tua, dan yang tua mengayomi yang muda’. Sudah saatnya
memikirkan cita-cita yang benar-benar diinginkan olehnya, bukan hanya menjadi
omong kosong lagi. Sudah saatnya membuktikan bahwa mereka mampu untuk melangkah
lebih cepat agar tidak tertinggal jauh.
Peran dari orang yang lebih tua memang sangat penting,
diketahui bahwa yang tua lebih berpengalaman dari yang muda. Setidaknya
memberikan dukungan dan pengawasan terhadap apa yang akan diperbuatan oleh kaum
pemuda, yang saat ini memang bagian mereka untuk merubah dunia, mereka yang
lebih tetap progresif untuk selalu melakukan tindakan-tindakan yang mengarah
kepada perubahan. Dimulai dari hal yang sederhana, yaitu mengaplikasikan
nilai-nilai yang ada dalam Pancasila sebagai pedoman hidup bagi seluruh warga
Indonesia.
Pemuda merupakan wajah-wajah baru yang bermunculan,
dan saatnya yang baru membuat hal-hal baru juga. Sudah memasuki masanya untuk
merubah segalanya, tentunya dalam hal positif untuk kemajuan berpikir menuju
bangsa yang maju. Sedangkan yang tua sebagai pengawal saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar