“Santri” : Siapa sih?
Krrrriiingggggg............... “jam menunjukkan pukul 02.30 Wib
seluruh sahabat-sahabat santri dimohon untuk bangun dan berwudu’ karena solat
tahajud berjama’ah akan segera dimulai”
Bisa dibayangkan tidak bagi kalian yang belum pernah bermukim di
pondok pesantren (mondok), masih pagi buta seperti itu disuru bangun
dengan secara terpaksa, masih disuru ambil air wudu’ sudah tahu dinginnya minta
ampun. Pokoknya ngenes jadi seorang santri.
Orang yang belum pernah menjamah dunia pesantren akan heran dan
tertegun ketika mendengar istilah “santri” pertama kali. Mereka akan mengira
bahwa sosok seorang santri adalah orang yang alim, tekun beribadah, sopan, dan
lain sebagainya. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, seorang santri bisa juga
dikatakan seseorang yang rakus, tamak, dan egois (dalam hal keilmuan).
Pada umumnya, semua orang akan mengartikan istilah santri dengan
hal-hal kebaikan, super, dan apalah yang seolah-olah santri adalah makhluk
paling sempurna dimuka bumi ini. Sebenarnya tidak sekecil itu pengertian santri.
Menurut data yang saya dapatkan dari hasil menyimak tutur dawuh kiyai
saya, seseorang bisa dikatakan santri ketika sudah memenuhi tiga ketegori,
yaitu:
1.
Orang
yang pernah mondok, baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek
2.
Orang
yang tidak pernah mondok, akan tetapi berperilaku layaknya seorang santri
3.
Orang
yang pernah mondok, akan tetapi perilakunya seperti orang yang tidak pernah
mondok.
Mari kita bahas dari kategori pertama, bahwa memang seseorang bisa
dikatakan sebagi santri apabila dia sudah pernah merasakan berdiam diri di
pesantren, dalam artian berdiam diri adalah pernah merasakan dunia pesantren
dan kegiatan yang ada didalamnya. Seseorang yang tidak pernah bermukim di
pesantren pun bisa dikatakan seorang santri, sesuai dengan pernyataan kedua
tadi, dalam artian dalam perilakunya setiap hari mencerminkan layaknya seorang
santri. Seperti, sholat jama’ah setiap waktu, sopan santun, sering bangun malam
dan melakukan tahajud, dan kegiatan-kegiatan yang lain.
Sedangkan kategori yang ketiga, mencerminkan bahwa ada seorang
santri akan tetapi didalam pesantrennya dia bersikap layaknya bukan santri
(anggap saja kasarnya preman). Kategori yang seperti ini yang jarang
dijamah oleh masyarakat umum. Bahwa tidak semuanya santri yang bermukim di
pondok pesantren itu bisa dikatakan santri yang baik. Bagi kalangan santri,
diharapkan jangan menjadi kategori yang ketiga ini La takun tsalitsan,
karena jelas-jelas ini mencoreng nama baik pesantrennya dimata masyarakat.
Oleh karena itu, apapun yang orang-orang katakan tentang pengertian
santri belum tentu benar sebelum dirinya sendiri merasakan hidup dilingkungan
pondok pesantren.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar