Rabu, 21 Oktober 2015

“Santri” : Siapa sih?

“Santri” : Siapa sih?
Krrrriiingggggg............... “jam menunjukkan pukul 02.30 Wib seluruh sahabat-sahabat santri dimohon untuk bangun dan berwudu’ karena solat tahajud berjama’ah akan segera dimulai”

Bisa dibayangkan tidak bagi kalian yang belum pernah bermukim di pondok pesantren (mondok), masih pagi buta seperti itu disuru bangun dengan secara terpaksa, masih disuru ambil air wudu’ sudah tahu dinginnya minta ampun. Pokoknya ngenes jadi seorang santri.

Orang yang belum pernah menjamah dunia pesantren akan heran dan tertegun ketika mendengar istilah “santri” pertama kali. Mereka akan mengira bahwa sosok seorang santri adalah orang yang alim, tekun beribadah, sopan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, seorang santri bisa juga dikatakan seseorang yang rakus, tamak, dan egois (dalam hal keilmuan).

Pada umumnya, semua orang akan mengartikan istilah santri dengan hal-hal kebaikan, super, dan apalah yang seolah-olah santri adalah makhluk paling sempurna dimuka bumi ini. Sebenarnya tidak sekecil itu pengertian santri. Menurut data yang saya dapatkan dari hasil menyimak tutur dawuh kiyai saya, seseorang bisa dikatakan santri ketika sudah memenuhi tiga ketegori, yaitu:  

          1.      Orang yang pernah mondok, baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek
          2.      Orang yang tidak pernah mondok, akan tetapi berperilaku layaknya seorang santri
          3.      Orang yang pernah mondok, akan tetapi perilakunya seperti orang yang tidak pernah mondok.

Mari kita bahas dari kategori pertama, bahwa memang seseorang bisa dikatakan sebagi santri apabila dia sudah pernah merasakan berdiam diri di pesantren, dalam artian berdiam diri adalah pernah merasakan dunia pesantren dan kegiatan yang ada didalamnya. Seseorang yang tidak pernah bermukim di pesantren pun bisa dikatakan seorang santri, sesuai dengan pernyataan kedua tadi, dalam artian dalam perilakunya setiap hari mencerminkan layaknya seorang santri. Seperti, sholat jama’ah setiap waktu, sopan santun, sering bangun malam dan melakukan tahajud, dan kegiatan-kegiatan yang lain.

Sedangkan kategori yang ketiga, mencerminkan bahwa ada seorang santri akan tetapi didalam pesantrennya dia bersikap layaknya bukan santri (anggap saja kasarnya preman). Kategori yang seperti ini yang jarang dijamah oleh masyarakat umum. Bahwa tidak semuanya santri yang bermukim di pondok pesantren itu bisa dikatakan santri yang baik. Bagi kalangan santri, diharapkan jangan menjadi kategori yang ketiga ini La takun tsalitsan, karena jelas-jelas ini mencoreng nama baik pesantrennya dimata masyarakat.


Oleh karena itu, apapun yang orang-orang katakan tentang pengertian santri belum tentu benar sebelum dirinya sendiri merasakan hidup dilingkungan pondok pesantren.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar