Selasa, 20 Oktober 2015

Inilah Saatnya (2): Emosi dan Kehancuran


Inilah Saatnya (2): Emosi dan Kehancuran

Amarah dan duka/menjadi jeladri dendam/bola-bola api tak terkendali/yang membentur diri sendiri/dan memperlemah perlawanan/Sebab seharusnya perlawanan/membuahkan perbaikan/bukan sekedar penghancuran

***

Proses berjalannya hidup manusia yang secara tidak langsung dipenuhi dengan berbagai cobaan, akan membuahkan hasil yang bervariasi ketika setiap orang dibenturkan dengan cobaan itu. Adakalanya berbuah negatif dan ada pula yang positif. Dari situlah kemudian muncul kecenderungan berfikir dan bertindak dari manusia sesuai dengan cobaan-cobaan yang mereka alami.

Dalam hal ini, kebanyakan dari individu manusia ketika dibenturkan dengan cobaan yang negatif akan menumbuhkan benih-benih amarah dan dendam tersendiri, yang nantinya bermuara kepada kebuntuan berfikir sehingga membuat tindakan individu tersebut negatif pula. Karena dari apa yang mereka alami tidak relevan dengan harapan sebelum cobaan itu datang, sehingga jika individu itu tidak bisa mengontrolnya maka timbul lah emosi.

Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi juga bisa dikatan sebagai reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, atau pun takut terhadap sesuatu.

Dari pengertian emosi diatas sudah jelas bahwa kejadian-kejadian yang telah manusia lewati, yang bertentangan dengan dirinya sendiri. Bentuk luapan emosipun bisa disesuaikan dengan keadaan dimana seseorang bisa merasakannya saat itu juga. Bisa saja dengan sebuah perlawanan kepada penyebab timbulnya emosi itu sendiri.

Pada hakikatnya, rasa emosi yang manusia alami bisa dikendalikan dengan baik tanpa melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Akan lebih parah lagi apabila  emosi tersebut tidak bisa terkendali karena dari sekian banyak amarah dan dendam yang tertampung dalam dirinya. Kecenderungan individu yang seperti itu tidak akan mampu untuk mengendalikan emosi tersebut, dan membuat tingkah laku semakin ngawur tidak tentu arahnya, sehingga akan membentuk sebuah perlawanan.

Perlawanan adalah salah satu bentuk luapan emosi seseorang yang tidak terkendali, dengan melakukan perlawanan itu seseorang akan merasa puas dengan kegagalan yang menyebabkan emosi hadir dalam dirinya.

Bentuk perlawanan disini yang seharusnya cenderung kepada perbaikan diri sendiri dengan harapan menghilangkan emosi itu, malah berbalik arah semakin menghancurkan dirinya sendiri. Sebab, ketika emosi sudah tidak bisa dikendalikan, maka hal apapun akan terjadi, dan seseorang tidak lagi sempat untuk menggagas sesuatu yang lebih baik karena pikirannya sudah tumpul karena emosi sudah terlanjur menguasainya.

Akhirnya, seseorang yang sudah terlanjur terjebak dalam emosi yang seperti itu sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri, sehingga perlawanan yang mulanya diharapkan untuk perbaikan malah menjadi kehancuran. Inilah akibatnya jika seseorang yang emosinya sudah meluap dan kesadaranpun hilang. Dan yang tersulit adalah untuk menetralisir emosi agar tidak menguasai pikiran seseorang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar