Inilah Saatnya
(2): Emosi dan Kehancuran
Amarah dan
duka/menjadi jeladri dendam/bola-bola api tak terkendali/yang membentur diri
sendiri/dan memperlemah perlawanan/Sebab seharusnya perlawanan/membuahkan
perbaikan/bukan sekedar penghancuran
***
Proses berjalannya hidup manusia
yang secara tidak langsung dipenuhi dengan berbagai cobaan, akan membuahkan
hasil yang bervariasi ketika setiap orang dibenturkan dengan cobaan itu.
Adakalanya berbuah negatif dan ada pula yang positif. Dari situlah kemudian
muncul kecenderungan berfikir dan bertindak dari manusia sesuai dengan
cobaan-cobaan yang mereka alami.
Dalam hal ini, kebanyakan dari
individu manusia ketika dibenturkan dengan cobaan yang negatif akan menumbuhkan
benih-benih amarah dan dendam tersendiri, yang nantinya bermuara kepada
kebuntuan berfikir sehingga membuat tindakan individu tersebut negatif pula.
Karena dari apa yang mereka alami tidak relevan dengan harapan sebelum cobaan
itu datang, sehingga jika individu itu tidak bisa mengontrolnya maka timbul lah
emosi.
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan
kepada seseorang atau sesuatu. Emosi juga bisa dikatan sebagai reaksi terhadap
seseorang atau kejadian. Dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai
sesuatu, marah kepada seseorang, atau pun takut terhadap sesuatu.
Dari pengertian emosi diatas sudah
jelas bahwa kejadian-kejadian yang telah manusia lewati, yang bertentangan
dengan dirinya sendiri. Bentuk luapan emosipun bisa disesuaikan dengan
keadaan dimana seseorang bisa merasakannya saat itu juga. Bisa saja dengan
sebuah perlawanan kepada penyebab timbulnya emosi itu sendiri.
Pada hakikatnya, rasa emosi yang
manusia alami bisa dikendalikan dengan baik tanpa melakukan tindakan yang
merugikan diri sendiri maupun orang lain. Akan lebih parah lagi apabila emosi tersebut tidak bisa terkendali karena
dari sekian banyak amarah dan dendam yang tertampung dalam dirinya.
Kecenderungan individu yang seperti itu tidak akan mampu untuk mengendalikan
emosi tersebut, dan membuat tingkah laku semakin ngawur tidak tentu
arahnya, sehingga akan membentuk sebuah perlawanan.
Perlawanan adalah salah satu bentuk
luapan emosi seseorang yang tidak terkendali, dengan melakukan perlawanan itu
seseorang akan merasa puas dengan kegagalan yang menyebabkan emosi hadir dalam
dirinya.
Bentuk perlawanan disini yang
seharusnya cenderung kepada perbaikan diri sendiri dengan harapan menghilangkan
emosi itu, malah berbalik arah semakin menghancurkan dirinya sendiri. Sebab,
ketika emosi sudah tidak bisa dikendalikan, maka hal apapun akan terjadi, dan
seseorang tidak lagi sempat untuk menggagas sesuatu yang lebih baik karena
pikirannya sudah tumpul karena emosi sudah terlanjur menguasainya.
Akhirnya, seseorang yang sudah
terlanjur terjebak dalam emosi yang seperti itu sulit untuk mengendalikan
dirinya sendiri, sehingga perlawanan yang mulanya diharapkan untuk perbaikan
malah menjadi kehancuran. Inilah akibatnya jika seseorang yang emosinya sudah
meluap dan kesadaranpun hilang. Dan yang tersulit adalah untuk menetralisir
emosi agar tidak menguasai pikiran seseorang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar