Selasa, 06 Oktober 2015

SASTRA


Cinta: Antara Keinginan dan Kebutuhan
Sederhana merupakan perbuatan yang tidak berlebihan, sama halnya perasaan cukup pada seseorang. Ketika rasa sederhana telah muncul dalam diri seseorang, maka terasa pulalah kecukupan dalam dirinya. Begitu pun sebaliknya, jika kecukupan telah merajai perasaan seseorang maka di situlah letak kesederhanaan yang ada.
Begitu pula halnya dengan kesederhanaan cinta, seperti yang diungkapkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono, bahwa mencintai dengan sederhana hanya dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu dan juga dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Nampak sesederhana seperti itulah cinta yang seharusnya berkembang dari para pecinta, baik cintanya pria kepada wanitanya atau wanita kepada prianya.
Mari kita telaah sedikit saja terkait syair dari Sapardi tersebut. Bahwa begitu tulus dan sederhana perasaan cinta seseorang apabila seperti kayu yang tak sempat mengucapkan perasaannya kepada api, sehingga menjadikannya abu. Api tidak pernah tahu, bahwa kayu telah merelakan dirinya untuk di kuasai olehnya, sampai kayu itupun menjadi abu.
Api tidak akan pernah tahu jika kayu merelakan dirinya untuk di kuasai olehnya, sampai akhirnya kayu itu dengan sendirinya menjadi abu karenanya. Perasaan cinta yang di analogikan seperti diatas mempunyai makna bahwa, bercinta dengan cara sirrun, atau rahasia. Cinta yang seperti inilah yang jarang ada pada kalangan remaja pada saat ini, meskipun ada tidak akan sampai total seperti kerelaan kayu kepada api diatas.
Manusia memiliki nafsu yang tidak bisa di lepaskan dalam dirinya, sesuai dengan kodratnya bahwa manusia adalah nafs dalam bahasa arab. Nafsu yang di miliki oleh manusia merupakan nafsu bawaan yang memang sudah ada dan permanen dalam dirinya. Nafsu bisa menguasai segalanya dalam segala struktur kerja manusia, begitu pun dengan adanya nafsu mencintai.
Maksud dari nafsu mencintai di sini adalah, bahwa tidak akan pernah ada cinta tanpa di landasi oleh rasa nafsu, baik itu nafsu untuk memiliki lawan jenis, maupun nafsu-nafsu lain yang mencederai kesucian cinta. Sehingga kesederhanaan cinta tidak akan pernah di temukan dalam cinta, jika nafsu tetap berkeliaran dalam jiwa manusia.
Untuk mencapai kesederhanaan cinta kita harus bisa membedakan mana yang di sebut hasrat atau keinginan dan kebutuhan. Maksud keinginan di sini cenderung dengan keikut campuran nafsu dalam tindakan manusia yang nantinya akan mengarah kepada kepuasan yang tidak henti-hentinya. Kalau kebutuhan, seolah-olah itu adalah bagian dari manusia yang tidak bisa lepas darinya, contohnya seperti makan, minum, tidur, dan lain sebagainya.
Kecenderungan manusia untuk memiliki segalanya, termasuk segala sesuata yang ada dalam cinta, itu bisa mencederai pada hakikat dari kesederhanaan cinta, dan hal yang seperti itulah merupakan bagian dari hasrat atau keinginan dari manusia. Jika nafsu telah menguasai manusia, maka segala keinginan yang di inginkan seolah-olah harus nampak di depannya.
Alangkah lebih indahnya jika kebutuhan yang menguasai diri manusia, niscaya segala sesuatu yang dia butuhkan akan lebih terorganisir dan terteta dengan rapi. Cinta seharusnya merupakan kebutuhan bagi manusia, kebutuhan rohani yang harus benar-benar di rasakan dengan hati, tidak ada ikut campur nafsu di dalamnya, sehingga menimbulkan kesederhanaan dari cinta itu sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar