Cinta: Antara
Keinginan dan Kebutuhan
Sederhana merupakan perbuatan yang
tidak berlebihan, sama halnya perasaan cukup pada seseorang. Ketika rasa
sederhana telah muncul dalam diri seseorang, maka terasa pulalah kecukupan
dalam dirinya. Begitu pun sebaliknya, jika kecukupan telah merajai perasaan
seseorang maka di situlah letak kesederhanaan yang ada.
Begitu pula halnya dengan
kesederhanaan cinta, seperti yang diungkapkan oleh penyair Sapardi Djoko
Damono, bahwa mencintai dengan sederhana hanya dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu dan juga dengan isyarat
yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Nampak sesederhana seperti itulah
cinta yang seharusnya berkembang dari para pecinta, baik cintanya pria kepada
wanitanya atau wanita kepada prianya.
Mari kita telaah sedikit saja
terkait syair dari Sapardi tersebut. Bahwa begitu tulus dan sederhana perasaan
cinta seseorang apabila seperti kayu yang tak sempat mengucapkan perasaannya
kepada api, sehingga menjadikannya abu. Api tidak pernah tahu, bahwa kayu telah
merelakan dirinya untuk di kuasai olehnya, sampai kayu itupun menjadi abu.
Api tidak akan pernah tahu jika
kayu merelakan dirinya untuk di kuasai olehnya, sampai akhirnya kayu itu dengan
sendirinya menjadi abu karenanya. Perasaan cinta yang di analogikan seperti
diatas mempunyai makna bahwa, bercinta dengan cara sirrun, atau rahasia.
Cinta yang seperti inilah yang jarang ada pada kalangan remaja pada saat ini,
meskipun ada tidak akan sampai total seperti kerelaan kayu kepada api diatas.
Manusia memiliki nafsu yang tidak
bisa di lepaskan dalam dirinya, sesuai dengan kodratnya bahwa manusia adalah nafs
dalam bahasa arab. Nafsu yang di miliki oleh manusia merupakan nafsu bawaan
yang memang sudah ada dan permanen dalam dirinya. Nafsu bisa menguasai
segalanya dalam segala struktur kerja manusia, begitu pun dengan adanya nafsu
mencintai.
Maksud dari nafsu mencintai di sini
adalah, bahwa tidak akan pernah ada cinta tanpa di landasi oleh rasa nafsu,
baik itu nafsu untuk memiliki lawan jenis, maupun nafsu-nafsu lain yang
mencederai kesucian cinta. Sehingga kesederhanaan cinta tidak akan pernah di
temukan dalam cinta, jika nafsu tetap berkeliaran dalam jiwa manusia.
Untuk mencapai kesederhanaan cinta
kita harus bisa membedakan mana yang di sebut hasrat atau keinginan dan
kebutuhan. Maksud keinginan di sini cenderung dengan keikut campuran nafsu
dalam tindakan manusia yang nantinya akan mengarah kepada kepuasan yang tidak
henti-hentinya. Kalau kebutuhan, seolah-olah itu adalah bagian dari manusia yang
tidak bisa lepas darinya, contohnya seperti makan, minum, tidur, dan lain
sebagainya.
Kecenderungan manusia untuk
memiliki segalanya, termasuk segala sesuata yang ada dalam cinta, itu bisa
mencederai pada hakikat dari kesederhanaan cinta, dan hal yang seperti itulah
merupakan bagian dari hasrat atau keinginan dari manusia. Jika nafsu telah
menguasai manusia, maka segala keinginan yang di inginkan seolah-olah harus
nampak di depannya.
Alangkah lebih indahnya jika
kebutuhan yang menguasai diri manusia, niscaya segala sesuatu yang dia butuhkan
akan lebih terorganisir dan terteta dengan rapi. Cinta seharusnya merupakan
kebutuhan bagi manusia, kebutuhan rohani yang harus benar-benar di rasakan
dengan hati, tidak ada ikut campur nafsu di dalamnya, sehingga menimbulkan
kesederhanaan dari cinta itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar